Seputar Indonesia.my.id -- MAKASSAR – Penyelenggaraan ajang lari bergengsi berskala nasional, Makassar Half Marathon (MHM) 2026, justru menuai sorotan tajam dan kekecewaan mendalam dari ratusan peserta.
Ketidakpuasan ini muncul menyusul kekacauan manajemen logistik yang terlihat jelas sejak proses pengambilan paket perlombaan atau race pack, yang berlangsung mulai sore hingga malam hari, Sabtu (30/5/2026).
Berbagai kendala teknis dan pelayanan yang jauh dari standar menjadi keluhan utama para pelari. Gelombang protes pertama mencuat terkait pembagian tas perlengkapan atau goodie bag. Salah satu peserta,
Widi Nugroho, dengan tegas memprotes panitia setelah hanya mendapatkan kantong polos biasa tanpa logo resmi MHM, yang bahkan hanya diikat seadanya menggunakan tali plastik. Saat dimintai keterangan, petugas di lokasi beralasan stok tas resmi telah habis dan berjanji akan membagikannya secara susulan setelah rangkaian perlombaan selesai.
Masalah tidak berhenti di situ. Persoalan kian memuncak saat masuk ke tahap pembagian jersei lari. Setelah mengantre berjam-jam menunggu giliran, para peserta harus menelan kekecewaan besar karena mendapati stok jersei yang tersedia hampir seluruhnya berukuran kecil (S), dan tidak sesuai dengan ukuran yang telah mereka daftarkan serta bayar sebelumnya.
Panitia pun dinilai gagal memenuhi standar minimal, bahkan tidak menyediakan opsi ukuran seragam (All Size) sebagai solusi alternatif.
Kondisi ini memicu rasa frustrasi yang mendalam, khususnya bagi para pelari yang datang dari berbagai daerah hingga lintas pulau dengan mengorbankan biaya perjalanan dan waktu yang tidak sedikit.
Bagi para peserta, jersei perlombaan bukan sekadar selembar kain, melainkan simbol identitas, kenangan, dan bagian tak terpisahkan dari pengalaman emosional mengikuti sebuah kompetisi.
Menanggapi hal tersebut, pihak penyelenggara MHM akhirnya menawarkan dua opsi penyelesaian di tempat, yakni pengiriman jersei yang sesuai ke alamat masing-masing peserta setelah acara selesai, atau pengembalian dana pembelian jersei secara langsung.
Namun, langkah ini ternyata belum mampu meredakan kemarahan peserta. Kedua opsi tersebut dinilai tidak memuaskan sama sekali, karena tidak dapat mengembalikan waktu yang telah terbuang, maupun memperbaiki ekspektasi dan semangat yang telah dibangun para pelari jauh-jauh hari sebelum acara berlangsung.
Hingga berita ini diturunkan, suasana di lokasi pengambilan paket masih terasa tegang dengan banyaknya peserta yang masih menyuarakan kekecewaan atas kinerja manajemen penyelenggara yang dinilai tidak profesional.
Redaksi By Tim

