Notification

×

Iklan

Iklan

Tanggapan dan Langkah Edukasi PLT Kepala Sekolah SMAN 11 Makassar Terkait Konflik Kelas Ganjil-Genap

Kamis, 04 Juni 2026 | Juni 04, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-05T04:06:18Z


Seputar
Indonesia.my.id -- MAKASSAR – Menyusul pemberitaan beberapa pekan lalu mengenai perkelahian kelompok yang melibatkan siswa kelas ganjil dan genap di SMAN 11 Makassar, Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Sekolah, Ibu Yuli sapaan akrab para media ," Memberikan tanggapan resmi dan menegaskan komitmen sekolah untuk memberantas tradisi kekerasan tersebut melalui pendekatan edukatif dan pembinaan karakter .

 

Dalam keterangannya, Ibu Yuli mengakui bahwa perang kelompok “ganjil-genap” yang kerap mempertentangkan angkatan X & XII melawan XI telah berlangsung lama dan menjadi masalah serius yang harus dihapuskan. “


Kami sangat prihatin. Ini bukan sekadar kesalahpahaman, tapi pola pikir yang salah dan harus diubah sepenuhnya. Sekolah tidak mentoleransi segala bentuk kekerasan, apalagi yang dibungkus sebagai tradisi,” ujarnya, Jum,at  (5/7/2026).

 

Menurutnya, konflik ini muncul karena adanya pemahaman keliru yang diturunkan antar angkatan, sehingga menciptakan permusuhan buatan. “Sebenarnya tidak ada masalah nyata, hanya kebiasaan buruk yang dianggap biasa. Tugas kami adalah memutus mata rantai itu,” tambahnya.

 

Langkah Edukasi dan Pembinaan yang Dijalankan

 

Untuk mengatasi akar masalah, PLT Kepala Sekolah telah menyusun serangkaian program pembinaan yang berfokus pada perubahan perilaku dan pemahaman:

 

1. Sosialisasi dan Dialog Terbuka: Seluruh siswa dari kelas X hingga XII dikumpulkan dalam sesi pemaparan bahaya kekerasan, nilai persaudaraan, dan aturan disiplin sekolah. Di sini dijelaskan secara rinci bahwa pembagian ganjil-genap hanyalah urutan administrasi, bukan alasan untuk berkelahi .


2. Pembinaan Karakter dan Bimbingan Konseling: Guru BK dan tim pembina karakter secara intensif memberikan pendampingan, mengajarkan cara menyelesaikan masalah dengan damai, serta membangun rasa empati dan saling menghargai antar sesama siswa.


3. Pertemuan dengan Orang Tua: Pihak sekolah mengundang seluruh wali murid untuk bersinergi. “Pendidikan karakter tidak cukup hanya di sekolah, harus didukung penuh di rumah. 

Kami minta orang tua juga mengawasi dan mengingatkan anak-anak agar tidak terlibat tawuran atau kelompok yang merugikan,” jelas Ibu Yuli


4. Penerapan Aturan Tegas namun Edukatif: Pelaku yang terlibat diberikan pembinaan khusus, penulisan komitmen, dan tugas sosial, bukan sekadar hukuman fisik. “Tujuannya agar mereka sadar dan berubah, bukan balas dendam,” katanya.


5. Kegiatan Pemersatu Angkatan: Sekolah kini mengadakan kegiatan olahraga, seni, dan keagamaan yang mewajibkan gabungan antar kelas, untuk menghapus sekat-sekat kelompok dan membangun rasa kebersamaan satu sekolah.

 

Jaminan Keamanan dan Perubahan Budaya

 

Ibu  Yuli,menegaskan bahwa sejak menjabat sebagai PLT, ia telah memperketat pengawasan di dalam dan luar kelas, serta menginstruksikan seluruh guru untuk bertindak cepat dan tegas jika melihat tanda-tanda keributan. “


Kami berjanji lingkungan SMAN 11 Makassar akan menjadi tempat yang aman, damai, dan kondusif. Budaya kekerasan harus hilang sama sekali,” tegasnya.

 

Pihak sekolah juga berencana mengajak pihak kepolisian dan KPAI untuk memberikan penyuluhan hukum dan perlindungan anak, agar siswa memahami konsekuensi hukum dari setiap tindakan kekerasan .

 

Saat ini, situasi di sekolah sudah kembali kondusif. Namun, Ibu Yuli mengingatkan bahwa perubahan budaya membutuhkan waktu dan konsistensi. “Kami terus berusaha, tidak akan berhenti sampai semua siswa sadar bahwa saudara sesama pelajar adalah teman, bukan musuh,” pungkasnya.


Redaksi By Tim ( SI NEWS )

×
Berita Terbaru Update