Seputar Indonesia.my.id -- MAKASSAR – Sebuah fenomena kontradiktif muncul di lingkungan SMAN 11 Makassar, Sulawesi Selatan, yang kini menjadi sorotan publik. Pejabat Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Sekolah yang bersangkutan diketahui memiliki rekam jejak tegas saat masih menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan. Namun, gaya kepemimpinannya berubah drastis setelah menduduki jabatan tertinggi di sekolah tersebut, terutama dalam menangani konflik pelajar yang kian memanas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, semasa menjabat Wakasek Kesiswaan, sosok ini dikenal tidak segan-segan memberikan sanksi berat hingga mengeluarkan siswa yang melanggar aturan atau terlibat perkelahian. Ketegasan itu dianggap efektif menciptakan kedisiplinan. Namun, setelah diangkat menjadi PLT Kepala Sekolah, sikap tegas itu justru hilang. Beliau dinilai ragu-ragu dan takut disorot publik, sehingga masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat justru dibiarkan berlarut-larut.
Isu ini mencuat ke permukaan setelah beberapa hari lalu, sejumlah media online memberitakan adanya perselisihan serius yang berujung pada perang kelompok antara siswa kelas ganjil dan kelas genap di SMAN 11 Makassar. Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi atau tanggapan langsung dari PLT Kepala Sekolah maupun pihak sekolah terkait kebenaran dan penanganan kasus tersebut.
Konflik antarkelompok ini ternyata bukanlah peristiwa baru. Berdasarkan pantauan dan pengakuan warga sekolah, persaingan dan permusuhan antara siswa kelas ganjil dan genap ini sudah berlangsung cukup lama dan telah mengakar kuat. Sayangnya, tidak ada langkah konkret yang dilakukan pimpinan sekolah untuk memutus mata rantai permusuhan tersebut.
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar dari orang tua siswa maupun masyarakat umum. Jika dibiarkan tanpa penyelesaian, dikhawatirkan perselisihan ini akan semakin membesar dan berujung pada hal yang tidak diinginkan, bahkan hingga menimbulkan korban jiwa. Situasi ini dianggap semakin memburuk karena ketidakberanian pimpinan sekolah mengambil tindakan tegas, padahal potensi bahaya sudah terlihat jelas.
Menanggapi kondisi yang memprihatinkan ini, berbagai pihak kini meminta perhatian serius dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Masyarakat dan pengamat pendidikan mendesak Kepala Dinas Pendidikan untuk turun tangan langsung dan mengambil langkah tegas.
PLT Kepala Sekolah SMAN 11 Makassar dinilai telah gagal menjalankan tugas pokok dan fungsinya dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan keutuhan lingkungan pendidikan. Kegagalan menghentikan pertikaian yang sudah berlangsung lama ini menjadi alasan utama mengapa publik menuntut evaluasi kinerja maupun pergantian pimpinan sekolah yang dianggap tidak mampu mengendalikan situasi.
Harapan besar kini tertuju pada Dinas Pendidikan Provinsi agar segera melakukan investigasi mendalam, memberikan sanksi sesuai aturan, dan menempatkan pemimpin yang berani serta tegas. Langkah ini diperlukan demi menyelamatkan masa depan siswa SMAN 11 Makassar dan memastikan sekolah kembali menjadi tempat yang aman dan kondusif untuk menuntut ilmu, bukan arena permusuhan antarkelompok.
Redaksi By Tim ( SI NEWS )

